STIE PERBANAS SURABAYA LAKUKAN BRAINSTORMING KE PERPUSTAKAAN UNSYIAH

unnamed

Librisyiana, Darussalam – Rabu, (9/5) Kepala Perpustakaan STIE Perbanas Surabaya, Munawarah  beserta rombongan yang terdiri dari staf STIE Perbanas Surabaya melakukan kunjungan ke Perpustakaan Unsyiah dengan tujuan melakukan brainstorming (metode untuk memunculkan penyelesaian masalah yang kreatif dengan mendorong anggota kelompok untuk melemparkan ide sembari menahan kritik atau penilaian) perpustakaan, dengan harapan mendapatkan ilmu baru yang dapat diterapkan di Perpustakaan STIE Perbanas Surabaya.

“Kami memilih melakukan brainstorming ke Perpustakaan Unsyiah karena seperti yang kami lihat di  berbagai media sosial, Perpustakaan Unsyiah sangat inovatif terhadap promosi perpustakaan yang mana banyak melibatkan mahasiswa dalam berbagai kegiatan yang ada di perpustakaan” Ujar munawarah, Kepala Perpustakaan STEI Perbanas Surabaya.

Selain mengenal dan mempelajarai berbagai kegiatan yang ada di perpustakaan Unsyiah, Kepala Perpustakaan STEI Perbanas Surabaya juga tertarik untuk mempelajari berbagai teknologi dan berbagai aplikasi yang telah dimiliki dan diterapkan oleh perpustakaan unsyiah. Hal ini dianggapnya sebagai salah satu hal yang dapat menjadi indikator meningkatnya mutu sebuah perpustakaan.

Kunjungan ini berjalan dengan baik, diawali dengan penyambutan oleh Duta baca Unsyiah 2018, kemudian dilanjutkan dengan presentasi oleh Bapak Taufiq Abdul Gani sebagai kepala Perpustakaan Unsyiah yang memperkenalkan perpustakaan unsyiah lebih rinci, baik dalam hal pengelolaan, kegiatan, dan lain sebagainya sehingga terjadinya tanya jawab, dan kemudian diakhiri dengan melihat berbagai ruangan dan fasilitas yang ada di perpustakaan Unsyiah. [DMM]

Share This:

MAHASISWA BARU UNSYIAH 2018 WAJIB IKUTI LIBRARY ORIENTASI CLASS ANDA TOUR

12

Librisyiana, Darussalam –  UPT. Perpustakaan Unsyiah kembali membuka sebuah program khusus bagi para mahasiswa baru Unsyiah 2018, yaitu Library Orientasi Class and Tour (LOCT), sebagai gerbang awal bagi  para mahasiswa untuk mengenal Perpustakaan sebagai salah satu tempat yang sangat vital dalam menunjang pembelajaran nantinya.  Adapun kegiatan Library orientasi class and tour 2018 kali ini akan diadakan pada tanggal 11 dan 12 Mei 2018 tepatnya di Perpustakaan Unsyiah, yang mewajibkan para mahasiswa baru yang dinyatakan lulus jalur SNMPTN untuk mengikuti LOCT pada waktu yang telah ditetapkan.

Di dalam kegiatan library orientasi class and tour, para mahasiswa akan didamping oleh para pemateri yang terdiri dari pustakawan dan duta baca unsyiah 2018. Dari kedua pemateri ini, nantinya akan ada presentasi yang berisikan orientasi-orientasi mengenai Perpustakaan, dan akan dilanjutkan dengan kegiatan library tour untuk melihat secara langsung Perpustakaan terkait layanan-layanan apa saja yang terdapat di dalam Perpustakaan Unsyiah.

Sebelum mengikuti kegiatan LOCT ini, ada beberapa hal  yang mesti dilakukan oleh para mahasiswa, diantaranya mahasiswa sudah memiliki KTM atau NPM, mendaftar secara online di http://library-orientation-class-and-tour-loct-2018.eventbrite.com, memilih kelas yang dikehendaki tanpa ada pembagian berdasarkan fakultas, mengisi informasi yang diminta dengan benar, print tiket yang di kirim ke alamat email masing-masing setelah melakukan pendaftaran, dan yang terakhir para mahasiswa yang mengikuti LOCT harus sudah hadir 30 menit sebelum kelas dimulai, dengan membawa KTM dan tiket.

“Dengan adanya Library Orientasi Class and Tour ini, diharapkan Maba 2018 mau memamfaatkan layanan Perpustakaan dengan semaksimal mungkin selama menempuh pendidikan di Unsyiah, dan menjadikan pengalaman di Perpustakaan Unsyiah sebagai sebuah moment yang tidak bisa terlupakan.” Ucap kepala UPT. Perpustakan Unsyiah. [ARMY]

 

Share This:

Resensi Buku “Mencintaimu di Jannah”

Tulisan ini diikutkan dalam perlombaan resensi Unsyiah Library Fiesta 2018

r1

Judul buku                  : Mencintaimu di Jannah

Editor                          : Abdul Latif

Penerbit                       : Zettu

Tahun Terbit                : 2013

Tempat Terbit              : Jakarta

Jumlah halaman           : 408 Halaman

“Mencintaimu di Jannah, tunggu aku di tempat terindah” menelusuri makna judul, sebelum membaca novelnya pembaca mesti sudah dapat menerka-nerka apa isi dari kisah yang ditawarkan oleh Ullan Pralihanta. Meski nyatanya akan sulit menebak kisah pasti dari isi cerita, yang sepertinya akan mengarah pada kisah cinta versi islami ini. Bagi penikmat novel bergenre romance bisa jadi kisah ini terkesan biasa dan sangat klise, namun siapa sangka beberapa bagian dalam cerita-cerita ini justru bermakna lebih dalam dari sekedar keseluruhan kisah yang ditampilkan secara utuh oleh sang penulis.

Berbekal alur maju mundur sederhana, novel karya Ullan Pralihanta yang juga bekerja dalam Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) di Pekan Baru ini, berkisah tentang perjalanan panjang dua orang anak sebagai teman masa kecil. Mereka digelayuti oleh perasaan cinta yang menjelma menjadi benci oleh dendam. Bercerita sederhana dengan penghayatan yang sempurna, kisah masa kecil “Sarah” sebagai anak dengan kelas strata sosial atas dan “Rahman” yang berasal dari kelas bawah, mampu membawa pembaca pada simpati yang dalam. Meski setelah melewatkan bab-bab masa kecil mereka, kita sebagai pembaca akan bertanya tanya “apa mungkin masih ada manusia seperti itu?”  pertanyaan yang lantas tidak membuat kita berhenti membaca.

Lanjut mengisahkan, pada bab-bab awal penulis akan membawa kita menyusuri kehidupan kelam tokoh utama “Rahman” yang tinggal bersama Abi dan Umminya di rumah majikan atau tuannya yang tidak lain adalah orangtua dari Sarah, yaitu Arya Laksono dan istrinya, Yasmin.

Klimaks kisah masa kecil mereka diceritakan dengan kepergian tokoh Abi Rahman dengan haru. kehilangan “Abi” nyalah yang menumbuhkan bibit dendam Rahman pada keluarga Arya Laksono atau majikannya sendiri. Kisah Rahman kecil masih berlanjut, setelah diusir karena kesalahpahaman yang sangat sulit untuk dijelaskan, Rahman yang yatim dan umminya mulai mencari penghidupan dengan mengais-ngais rezeki di kota. Menjadi pengamen dan pekerjaan seadanya. Keadan mereka yang semakin sulit dan memprihatinkan membuat Rahman tumbuh menjadi anak yang tangguh dan lebih kuat bahkan terlalu kuat untuk anak seusianya. Kehidupan keras itu mengubah Rahman yang begitu bersifat penyayang dan lembut menjadi seseorang yang keras. Singkatnya, keadaaan memaksa bocah berusia 10 tahun itu memadamkan cahaya hatinya sendiri.

Di tengah cerita sudah tampak jelas kemana penulis akan mengakhiri cerita, dengan sederhana ia bercerita tentang Rahman dan Sarah yang telah dewasa secara terpisah. Tentang Sarah yang tumbuh menjadi wanita cantik paras dan hatinya, tentang Rahman yang berputar roda kehidupannya menjadi seorang yang bergelimang harta namun lupa akan Tuhan-Nya.

Titik puncak cerita diawali sejak keduanya bertemu dalam ikatan takdir di Kota Jakarta, Rahman yang bertransformasi menjadi Satria memulai pembalasan dendamnya pada sahabat kecilnya, yang sungguh sama sekali tak bersalah. Namun Satria tidak pernah mampu melukai Sarah yang penuh dengan ketulusan. Malahan semua sikap Sarah yang begitu tulus dan lembut dengan keimanannya yang semakin dalam mampu membuat Satria kembali pada dirinya yang dulu. Menyadari betapa berdosanya Rahman yang telah menutup pintu hatinya dari kebaikan dunia, dari rahmat tuhannya, ketulusan sahabat kecilnya, dan cinta yang mereka berdua miliki.

Namun akhir cerita sedikit memberi kejutan bagi pembaca, “dimana cinta tak harus memiliki” Lantas perasaan yang sama, jalinan kasih yang serupa di antara mereka berdua tidak mampu menyatukan mereka dengan izin Tuhan. Sehingga salah seorang dari dua insan yang sedang memadu kasih ini harus berakhir bersamaan dengan akhir cerita yang mengundang pilu.

Sebenarnya banyak hal yang dirasa kurang untuk memuaskan pembaca dari kisah cinta bernuansa islami, meski penjelasan sastranya cukup menjanjikan, beberapa logika sempat terlewat oleh penulis, seperti masa iddah seorang wanita yang ditalak, merupakan salah satu contoh mencolok. Hingga penggunaan bahasa yang dinilai cukup dewasa dan berani, sehingga tidak terlalu cocok untuk pembaca remaja awal.

Setiap cerita akan istimewa dengan cara yang berbeda bagi tiap-tiap orang yang membaca. Karya ini memang terkesan biasa saja, namun pembawan sederhana dengan alur yang sistematis membius pembaca dan menyadarkan kita yang hidup dengan segala kecukupan untuk menyadari fakta tentang mereka yang berjuang sangat keras untuk kehidupannya.

Salah satu hal unik yang disajikan penulis ialah kontras kisah yang harusnya frontal disajikan dengan selipan makna islami yang sangat lembut. Membuat kita menyadari pesan terpenting dari kisah ini, bahwa sebenarnya baik dan buruknya dunia dapat melalaikan kita dari cinta hamba dan tuhan-Nya.

Share This:

Pemenang Library Award 2018

ee61d9a8-d1eb-4723-924e-47abed3489c5

Perpustakaan Unsyiah kembali memberikan apresiasi kepada civitas akademika Unsyiah yang telah memberikan kontribusi dalam memajukan perpustakaan, yang diserahkan pada malam puncak Unsyiah Library Fiesta 2018 di AAC Dayan Dawood Darussalam (30/3). Apresiasi tersebut diberikan dengan beberapa kategori, yaitu dosen yang aktif dalam kelas literasi Informasi, pemustaka paling sering datang ke Perpustakaan dan peminjam buku terbanyak. Semuanya dalam periode April 2017 sd. Maret 2018.

Kategori dosen paling aktif jatuh pada Ibu Dra. Nurulwati, M.Pd (FKIP/Fisika) yang membawa sebanyak 110 mahasiwa, disusul oleh Ibu Viona Diansari, S.Si., M.Si (FKG) dengan jumlah 99 mahasiswa dan yang terakhir  oleh ibu Sarika Zuhri, ST., MT (FT/Industri) dengan jumlah 96 mahasiswa.

Untuk kategori peminjam buku terbanyak jatuh pada Rahmah Agustira (FEB/Akuntansi) dengan jumlah peminjaman sebanyak 280 buku. Selanjutnya yang kedua terbanyak diraih oleh Rezkhy Adami (FH/Ilmu Hukum) dengan jumlah 136 buku serta terbanyak ketiga oleh M. Alami (FMIPA/ Ilmu Kimia) dengan jumlah peminjaman 121 buku.

Kemudian pada kategori pengunjung tersering ke Perpustakaan diraih oleh Taufiq Hidayat (FMIPA/ Teknik Informatika) dengan jumlah kunjungan sebanyak 387 kali, Septian Riswandi (FT/Teknik Elektro) dengan jumlah sebanyak 351 kali , dan terakhir Ilham (FKIP/Bahasa Inggris) dengan jumlah kunjungannya 334 kali.

Kepala Perpustakaan Unsyiah bapak Taufiq Abdul Gani mengharapkan apresiasi ini diharapkan makin mempererat kerjasama civitas dengan perpustakaan dalam pemanfaatan fasilitas.

Selamat untuk pemenang yang telah meraih penghargaan.

Share This:

Siapkan Sertifikasi Internasional Bidang TI, Perpustakaan Unsyiah Terapkan Layanan Failed-Over

iso-27001-security

Lulus Sertifikasi Internasional ISO 9001, ternyata bukanlah akhir dari pengembangan mutu pelayanan Perpustakaan Unsyiah. Lebih jauh lagi Perpustakaan Unsyiah saat ini sedang mempersiapkan diri menjaminkan pelayanan Teknologi Informasi sehingga sesuai Standar Internasional ISO 27001 Keamanan Informasi. Standar baru ini akan membantu Perpustakaan Unsyiah mengendalikan kerentanan terhadap serangan dan gangguan yang dapat menghentikan (interupsi) layanan berbasis teknologi informasi. “Kami sedang mempersiapkan Sertifikasi ISO Keamanan Informasi untuk mencegah kerentanan yang dapat mengganggu atau menginterupsi pelayanan”, demikian ungkapan Bapak Taufiq Abdul Gani, Kepala Perpustakaan Unsyiah yang ditemui di ruang kerjanya (2/4).

Tidak tanggung yang dilakukan,  mulai hari ini (2/4) Perpustakaan Unsyiah menjamin tidak terhentinya layanan atau interupsi dengan menerapkan Failed Over atau server ganda untuk aplikasi UILIS yaitu Sistem Katalogisasi dan OPAC Perpustakan Unsyiah. “Sebelumnya kami hanya mengoperasikan satu server berlokasi di Perpustakaan, permasalahan adalah sering mati listrik sementara Genset dan UPS yang ada sering bermasalah. Untuk menjamin kontinuitas pelayanan sebagai persyaratan ISO 27001, Perpustakaan menyewa sebuah server lain di Singapore, sehingga kedua sever, di Unsyiah dan Singapore akan saling ambil alih kalau terjadi gangguan (Failed Over). Database di kedua server tersebut juga akan saling mereplikasi secara otomatis, jadi sistem IT Perpustakaan Unsyiah  terjamin konsisten dan redundant”, demikian penjelasan Saiful Bahri yang bertanggung jawab atas implementasi ISO 27001. Beliau sendiri saat ini adalah Certified Network Administrator dari Mikrotik dan menjabat sebagai Ketua Teknologi Informasi Perpustakan Unsyiah.

Ibu Charlis Siana Rosita, Ketua Bidang Pelayanan Pemustaka Perpustakaan Unsyiah mengatakan “Karena gangguan listrik pelayanan sangat terkendala, karena akses terhadap koleksi kita adalah non stop 24 jam, 7 hari seminggu dan oleh pengguna bukan hanya civitas akademika tapi seluruh tanah air dan luar negeri. Redundant dan Failed Over System ini akan sangat membantu pelayanan karena diharapkan tidak terjadi lagi interupsi saat mencari koleksi”.

Perpustakaan Unsyiah memiliki banyak aplikasi layanan, saat ini yang diredundantkan baru UILIS, selanjutnya akan menyusul aplikasi yang lebih kompleks seperti ETD. “Saat ini baru Katalogisasi dan OPAC yang diredundant. Sirkulasi dan ETD masih belum karena keterbatasan infrastruktur. Insya Allah yang ada akan kami monitor terus, tahun depan kita akan perbaiki infrastruktur lagi sehingga semua layanan termasuk Sirkulasi dan ETD akan diredundantkan atau failed-over” Pak Taufiq Abdul Gani menjelaskan lebih lanjut.

Share This: