Kementrian Pemberdayaan Perempuan BEM Unsyiah Adakan Talk Show di Perpustakaan

IMG_20160310_171057

Librisyana, Darussalam – Puluhan mahasiswa terlihat antusias mengikuti acara talk show dalam rangka memperingati hari perempuan Internasional yang jatuh pada setiap tanggal 8 Maret. Kegiatan yang bertemakan “Stop Kekerasan Pada Perempuan” ini berlangsung sukses di ruang seminar lantai 1 UPT Perpustakaan Unsyiah Kamis (10/3/2016).

“Acara ini sangat bermanfaat bagi kita. Dimana kita sebagai mahasiswa seharusnya berperan aktif dalam meminimalisir dan menekan angka kekerasan yang terjadi pada perempuan. Kementrian Pemberdayaan Perempuan Bem Unsyiah juga harus menjadi garda terdepan dalam hal mengkaji isu-isu tentang perempuan”, ungkap Hasrizal Presiden Mahasiswa Unsyiah dalam kata sambutannya.

Talk show ini di isi oleh dua orang pemateri yang paham betul tentang perempuan dan kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan di Aceh khususnya. “Kita sebagai rakyat Aceh seharusnya malu pada masyarakat luar, dimana kita yang telah menerapkan syariat islam tetapi masih ada kasus kekerasan pada perempuan dan anak malah semakin meningkat setiap tahunnya” ujar Suraiya Kamaruzzaman selaku pemateri pertama pada kegiatan tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa memperjuangkan hak-hak perempuan ini tidaklah mudah. Apabila ada seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual khususnya, ia harus mendapat 3 pengobatan. Yang pertama pengobatan secara fisik, kemudian secara psikologis dan yang terakhir korban juga harus mendapat pengobatan secara sosial dimana ia bisa diterima dan tidak dihina oleh masyarakat.

Nihrasyiah selaku pemateri kedua mengkaji kekerasan terhadap perempuan dari perspektif Islam. Ia mengatakan bahwa rasulullah adalah orang pertama yang mengangkat derajat perempuan dimana saat itu perempuan tidak memiliki harga diri dan dipandang rendah. Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan ini terjadi karena ketimpangan relasi antara seorang suami dan istri dimana seorang istri itu dianggap berada dibawah suami dan tidak bisa melakukan apa-apa. Sebuah paradigma masyarakat dimana seorang perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi tetapi hanya harus mengurus dapur saja. Hal ini jelas salah dimana seorang anak berhak mendapatkan ibu yang cerdas. [MA]

Share This:

Comments

comments

Bookmark the permalink.