Kepala UPT.Perpustakaan Universitas Mulawarman: “Perpustakaan Unsyiah Salah Satu Kiblat Bagi Perpustakaan Universitas di Indonesia”

c9e91905-8a24-4551-92c8-a528a3d35b97

Librisyiana, Darussalam- Senin 19 November 2018 lalu, kepala UPT.Perpustakaan Unsyiah, Dr.Taufiq Abdul Gani, diundang oleh Universitas Mulawarman sebagai pemateri workshop dengan tema “Sistem Informasi Perpustakaan di Era Revolusi Industri 4.0”. Workshop yang diikuti oleh 50 orang peserta ini, tidak hanya pustakawan yang berasal dari Universitas Mulawarman saja, namun juga diikuti oleh pustakawan universitas daerah sekitar terutama daerah Samarinda, Tenggarong dan Balikpapan.

“Alasan kami memilih Dr.Taufiq Abdul Gani sebagai pemateri adalah karena kami telah mengenal baik dan melihat kinerja beliau yang sangat bagus dalam mengembangkan Perpustakaan Unsyiah. Menurut saya, Dr.Taufiq telah berhasil menjadikan UPT.Perpustakaan Unsyiah sebagai salah satu kiblatnya Perpustakaan Universitas yang ada di Indonesia”, kata bapak Supadi, S.Sos, M.Si, Kepala UPT.Perpustakaan Mulawarman.

Bapak Supadi juga memaparkan bahwa tujuan dari workshop ini adalah untuk menngetahui sejauh mana perkembangan sistem informasi perpustakaan, apakah sudah sesuai dengan revolusi industri 4.0 dan apa saja tantangan bagi perpustakaan di masa yang akan datang. Tidak hanya itu, beliau berharap bahwa kedatangan bapak Dr. Taufiq dapat memberikan motivasi bagi para pustakawan yang berhadir, karena masih ada perpustakaan yang belum terdigitalisasi atau masih menggunakan sistem manual.

Kepala UPT.Perpustakaan Unsyiah, Dr. Taufiq Abdul Gani mengungkapkan bahwa pada workshop kali ini beliau menekankan pada salah satu karakteristik Revolusi Industri 4.0 dan Library 4.0, yaitu customer engagement.

“Saya sendiri sudah mempelajari karakteristik revolusi industri 4.0, dan kemudian saya merefleksikan ternyata beberapa karakteristik itu sebenarnya bukan hal baru bagi Perpustakaan Unsyiah. Sejak tahun 2014, kita sudah berusaha mengarahkan Perpustakaan Unsyiah ke karakteristik revolusi industri 4.0 seperti melakukan customer engagement dan berfokus pada komunitas, tanpa sadar bahwa itu adalah perubahan yang dinamakan revolusi industri 4.0 dan Library 4.0. Saya mengakui bahwa Perpustakaan Unsyiah bisa menjadi besar seperti sekarang ini berkat dukungan dan kontribusi komunitas. Hal yang perlu diingat bahwa perpustakaan yang kecil itu mengembangkan koleksi, perpustakaan yang biasa saja mengembangkan layanan, dan jika ingin menjadi perpustakaan yang besar, maka harus mengembangkan komunitas”, papar Dr. Taufiq Abdul gani.

Salah satu peserta workshop yang hadir, bapak Suratman dari Perpustakaan IAIN Samarinda, mengatakan bahwa workshop Sistem Informasi Perpustakaan di Era Revolusi Industri 4.0 ini sangat bagus dan menarik, dimana hal ini sangat relevan dengan kondisi perkembangan zaman saat ini. Menurutnya, hal yang disampaikan oleh Dr. Taufiq sangat menginspirasi dan patut untuk diterapkan di Perpustakaan IAIN Samarinda. Ia berharap, Perpustakaan IAIN Samarinda bisa mengikuti dan mencontoh kesuksesan Perpustakaan Unsyiah. [Moli]

Share This:

Comments

comments

Bookmark the permalink.