Kepala UPT.Perpustakaan Unsyiah Kenalkan Perpustakaan Unsyiah Sebagai Sampel Library 4.0 di Yogyakarta

IMG-20181101-WA0005

Librisyiana, Darussalam- Kepala UPT.Perpustakaan Unsyiah, Dr. Taufiq Abdul Gani, menjadi pembicara tunggal dalam Workshop Open Educational Resources yang diselenggarakan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Senin (29/10/2018). Dr. Taufiq mengangkat tema “Library 4.0: Open Educational Resources and Customer Engagement”,  yang diikuti oleh 40 orang peserta yang berasal dari berbagai Universitas. Di antaranya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, IAIN Purwokerto, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Widya Mandala, STIKES dan POLTIKES.

“Pada saat itu saya menjelaskan apa itu Open Educational Resources (OER) dan bagaimana cara mencari bahan OER. Saya juga menceritakan bagaimana Unsyiah membangun OER. Di mana Perpustakaan Unsyiah itu membangun komunitas yang melibatkan mahasiswa. Di situlah kita melakukan empowering people dan student engagement. Nah inilah ciri dari Library 4.0”, kata Dr. Taufiq saat diwawancara oleh Librisyiana pada Kamis (1/11/2018).

Ia juga menjelaskan bahwa di zaman Revolusi Industri 4.0 ini, perpustakaan juga termasuk kedalamnya. Perpustakaan yang mampu menjadi Library 4.0, yaitu perpustakaan yang tidak hanya fokus terhadap koleksi saja, namun juga membangun teknologi perpustakaan dan menjadikan pelanggan sebagai aset dari perpustakaan itu sendiri. Di mana customer perpustakaan tidak hanya menjadi end customer, namun mereka juga ikut kedalam operasional perpustakaan untuk memajukan perpustakaan, salah satunya dengan membangun OER, seperti yang saat ini sudah dilaksanakan oleh UPT. Perpustakaan Unsyiah. Tidak hanya itu, Perpustakaan Unsyiah dapat menjadi contoh dari Library 4.0 karena Perpustakaan Unsyiah telah memiliki aplikasi yang sudah user generated contents, dengan memanfaatkan data mining, serta empowering people melalui program relax and easy, volunteering, Librisyiana, makerspace dan lain-lain.

Salah satu peserta Workshop, Wiwin, dari Perpustakaan Geografi UGM mengatakan bahwa banyak hal yang ia dapatkan dari workshop ini.

“Banyak sekali pencerahan yang saya dapatkan dari penjelasan Dr.Taufiq. Sebenarnya kami sudah tahu mengenai OER, akan tetapi kami belum tahu bagaimana cara mendapatkan resource yang legal, kemudian kami juga kekurangan tenaga. Nah dari ide yang Dr. Taufiq sampaikan dengan merekrut mahasiswa menjadi volunteer, saya rasa ini sangat menarik. Dan ide ini akan saya bicarakan di instansi saya, untuk kami coba aplikasikan seperti yang telah dilakukan oleh Perpustakaan Unsyiah”, ungkapnya.

Sejalan dengan Wiwin, Darul Ulumi, perwakilan dari UIN Walisongo Semarang, mengatakan bahwa workshop semacam ini sangat diperlukan oleh pengelola informasi, terutama pustakawan di mana pun berada.

“Menurut saya mengapa pustakawan perlu mengikuti workshop semacam ini, karena pustakawan bekerja dalam bidang pengelolaan informasi, maka pustakawan harus tahu seluk-beluk legal terkait dengan informasi. Jadi sebagai pustakawan, kita jangan hanya semangat menyebar informasi, tapi juga tahu dan memastikan apakah informasi yang kita sebar itu baik dan benar dan juga dilindungi hukum. Setelah itu baru kita tingkatkan kuantitas penyebaran informasi, sehingga mahasiswa dapat memperoleh informasi yang sebaik-baiknya dengan informasi ilmiah serta kualitas yang tinggi”, jelasnya.

Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Labibah Zain sebagai penyelenggara acara berharap, dengan adanya workshop ini dapat menimbulkan jejaring OER yang luas. Di mana antar masing-masing Universitas dapat saling memberikan konstribusi bahan OER. [Moli]

Share This:

Comments

comments

Bookmark the permalink.