Membentuk Karakter dan Optimasi Resources, Manfaat Dari Peniadaan Tong Sampah di Ruang Baca

FB_IMG_1478021659460

Librisyiana, Darussalam- Peniadaan tong sampah di setiap ruang baca, merupakan salah satu kebijakan baru dari pihak perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Dasar pemikiran dari kebijakan ini adalah, melihat volume sampah yang semakin hari semakin bertambah. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh kepala UPT.Perpustakaan Unsyiah pada Rabu, (16/11/2016).

“Kita semua dapat melihat bahwa, di perpustakaan Unsyiah ini membolehkan mahasiswa untuk membawa masuk makanan ke ruang koleksi, hal ini membuat mahasiswa bebas membawa makanan sebanyak mungkin yang mereka mau. Ini mengakibatkan volume sampah yang semakin bertambah. Tidak hanya itu, mahasiswa yang membuat tugas yang membutuhkan banyak kertas coret-coret juga bisa menghasilkan sampah. Terlebih lagi, sekarang di perpustakaan Unsyiah sudah ada Libricafe yang juga bisa menghasilkan sampah. Nah, mengingat volume sampah yang sangat banyak, tidak akan mungkin cukup tong sampah yang kecil mampu menampung semua sampah tersebut. Kami sempat berfikir untuk memperbesar tong sampah. Akan tetapi hal ini tidak enak untuk dipandang. Dengan kata lain, secara estetikanya tidak bagus. Oleh karena itu kami memutuskan untuk meniadakan tong sampah di setiap ruang baca dan memilih untuk menempatkan tong sampah di dua pintu keluar” terang Kepala UPT. Perpustakaan Unsyiah.

” Dengan tidak adanya tong sampah di setiap ruang baca, maka mahasiswa memiliki tugas baru, yaitu mereka harus bisa secara mandiri mengurus sampahnya. Dalam artian, sampah yang mereka hasilkan disimpan terlebih dahulu dan nantinya di buang ketika keluar”, ujarnya.

Membentuk Karakter
Ia juga melanjutkan, bahwa ini sebenarnya merupakan salah satu fungsi perpustakaan, dimana pustaka tidak hanya tempat membaca buku, akan tetapi sebenarnya perpustakaan juga terlibat dalam learning proses, yaitu mendidik atau membentuk karakter mahasiswa. Jika kita melihat di negara-negara maju, mereka juga menangani sampahnya sendiri. Ia yakin dan percaya bahwa mahasiswa Unsyiah ini suatu saat nanti akan melangkah ke negara lain, maka sebelum itu diharapkan mereka sudah terbiasa dengan kebiasan baik, salah satunya mandiri menangani sampah dan tidak membuang sampah sembarangan. Karakter lain yang telah ditanamkan oleh pustaka Unsyiah yaitu budaya mengantri dan budaya membawa kartu identitas. Sebelumnya mahasiswa Unsyiah tidak terbiasa untuk membawa kartu identitas mereka sendiri (KTM), padahal itu menjadi kewajiban mahasiswa. Untuk membudayakan hal ini, ia telah mewajibkan setiap mahasiswa untuk menggunakan KTM saat masuk keperpustakaan. Tidak hanya itu, sekarang mahasiswa Unsyiah juga sudah tertib dalam mengantri ketika ingin check-in ke perpustakaan.

Optimasi Resources
“Peniadaan tong sampah ini, bukan karena petugas perpustakaan malas untuk selalu membuang sampah yang sudah menumpuk. Akan tetapi, kita bisa melihat secara lebih luas. Jika mahasiswa bisa mandiri dengan sampahnya, lantas mengapa petugas harus repot-repot untuk menangani sampah di setiap ruang baca? Sebagai wacana baru, sekarang pustakawan juga tidak akan melayani perpanjangan, dimana mahasiswa harus bisa melakukan peminjaman, pengembalian dan perpanjangan buku secara mandiri. Lalu, apakah hal ini juga dikatakan bahwa pustakawan malas bekerja? Bukan demikian kan. Ya dengan kata lain, disini kami mencoba untuk memberdayakan SDM ke hal-hal yang lain. Tugas pustakawan kan bukan hanya mengurus sampah pengunjung, dan melayani perpanjangan buku saja. Dimana pustakawan bisa mengerjakan tugas lainnya yang lebih produksi. Disini kami mencoba untuk mengoptimasikan resources” , tutupnya. [Moli]

Share This:

Comments

comments

Bookmark the permalink.