MUSIKALISASI PUISI

WhatsApp Image 2018-03-01 at 8.40.37 PM

MEKANISME PERLOMBAAN MUSIKALISASI PUISI UNSYIAH LIBRARY FIESTA 2018

“Transformasi Seni Sastra Bagi Pembentukan Generasi Gemar Membaca”

Musikalisasi puisi merupakan kegiatan membaca puisi dengan cara dilagukan, diberi irama, atau diiringi musik yang sesuai dengan isi puisi. Musikalisasi puisi yaitu kolaborasi apresiasi puisi yang dilakukan dengan pembacaan dan penggubahan syair dengan melibatkan beberapa unsur seni seperti irama, bunyi atau musik serta unsur gerak atau tari.

Dalam rangka memeriahkan Unsyiah Library Fiesta 2018, pihak kepanitiaan memberikan kesempatan kepada mahasiswa atau pelajar yang tertarik dalam bidang sastra untuk dapat mengeksplor kemampuannya dalam berseni. Kompetisi musikalisasi puisi ini bertujuan mengajak lebih banyak orang untuk membudayakan gemar membaca dengan memadukan seni dan sastra.

Ketentuan Umum

  • Lomba ini terbuka untuk seluruh mahasiswa/i di Perguruan Tinggi seluruh Indonesia.
  • Jumlah anggota dalam satu grup terdiri 5-7orang.
  • Peserta dikenakan biaya sebesar Rp 30.000
  • Karya tidak diperkenankan menyinggung SARA, pornografi, dan unsur promosi.
  • Karya harus orisinil/asli/belum pernah ditampilkan sebelumnya.
  • Karya belum pernah dipublikasikan, serta tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain.
  • Karya tidak diperbolehkan memplagiat unsur musik lain, jika terbukti memplagiat unsur musik lain maka akan di diskualifikasi.

Ketentuan Khusus

  • Peserta diwajibkan follow akun Instagram @upt_perpustakaan_unsyiah untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan lomba dan mempermudah panitia dalam memberikan informasi terkait peraturan yang ditetapkan.
  • Setiap grup diberi kebebasan untuk membuat aransemen lagu atau musik pengiring.
  • Peserta berpakaian sopan dan wajar dalam penampilan pada saat perlombaan.
  • Durasi penampilan maksimal 10 menit termasuk persiapan alat dan checksound.
  • Pengulangan hanya diperkenankan untuk satu kalimat puisi dalam baitnya atau lebih, ini biasanya dilakukan karena disesuaikan dengan kebutuhan garapan/aransemen musik dan lagu yang akan dibuat, digunakan sebagai rythme vokal/koor.
  • Musikalisasi puisi tidak diperkenankan memvisualisasikan maksud puisi kedalam adegan-adegan drama atau tarian tetapi hanya terfokus pada komposisi dengan memasukkan tiga ciri yakni komposisi musik, pembacaan puisi, dan lagu.
  • Peserta dalam membuat komposisi boleh bebas bergenre musik apapun sesuai interpretasi yang didapatkan dalam pembacaan puisi.
  • Peserta hanya diperbolehkan menggunakan peralatan musik akustik.
  • Penggunaan peralatan musik yang tidak standar juga dapat digunakan seperti musik sampah, plastik, ember, galon aqua, tampah, kaleng, seng dan lain-lain.
  • Peserta diwajibkan meghadiri pertemuan teknis pada hari sabtu, 10 Maret 2018 di Perpustakaan Unsyiah pukul 14.00 WIB.
  • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Kriteria Penilaian

  • Aransemen
  • Pemahaman dan penghayatan
  • Vokal
  • Penampilan

Pilihan Puisi

  • Kupu kupu di dalam buku karya Taufik Ismail
  • Membaca tanda-tanda karya Taufik Ismail
  • Literasi atau mati karya Idris Apandi, M.Pd
  • Salam literasi karya HM. Nasruddin Anshoriy Ch
  • Huruf karya Pramoedya Ananta Toer

Contact Person

  • Intan Maghrifah (085228419049)
  • Lina Ratna (081360786672)

Time Line Lomba

  • Pendaftaran: 3-25 Maret 2018
  • Technical Meeting: 26 Maret 2018
  • Perlombaan: 27 Maret 2018

Fasilitas Peserta

  • Snack
  • Sertifikat untuk semua peserta
  • Piagam untuk pemenang
  • Hadiah untuk pemenang

Total Hadiah: Rp 1.800.000,-

Tertarik mengikuti lomba ini? Daftar di library.unsyiah.ac.id/muspus atau http://bit.ly/2Cbp8uC

 

PILIHAN PUISI

(1) Kupu-Kupu Di Dalam Buku

Kupu-kupu di dalam Buku

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.

[ Taufiq Ismail, 1996 ]

 

(2) Membaca Tanda-Tanda

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas
tapi kita kini mulai merindukannya

Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu
Allah
Ampunilah dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
akan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kami mulai merindukannya.

 [ Taufiq Ismail ]

 

(3) Literasi atau Mati!

Laporan index minat baca yang kau rilis berulangkali

Telah menyentak seluruh jiwa dan hati sanubari

Menampar rona merah muka anak negeri

Yang baru saja merangkak meraih mimpi

 

Nilai yang kau beri sungguh tak bisa kumengerti

Yang telah melempar harga diri ke bawah titik nadir sampai mati

Bagaimana bisa hal ini terjadi

Menimpa  seluruh anak negeri yang sedang merajut mimpi

 

Kini…

Semua orang berlomba menggaungkan gerakan literasi

Dari kaum yang termarginalkan sampai kaum berdasi

Dari rakyat jelata yang turun dari becak penuh ilusi

Sampai rakyat borjuis yang turun dari mersi penuh sensasi

 

Dari daerah terdepan, terluar dan tertinggal

Sampai kota megapolitan yang bergelimang kemajuan

Dari angkot literasi dan taman bacaan masyarakat yang bersahaja

Sampai perpusatkaan megah berkoleksikan jutaan buku

Bermandikan konektivitas ke seluruh penjuru

 

Kini…

Semua anak bangsa bergandengan tangan

Merajut mimpi literasi yang telah lama terkoyak

Demi  bangsa yang lebih literat

Dengan satu tekad bulat

LITERASI atau MATI!

[Idris Apandi, M. Pd]

 

(4) Salam Literasi

Salam literasi kuucapkan dari gedung megah ini
Kepada bangsa yang telah gagah mengusir penjajah
Dan mengikrarkan Proklamasi Kemerdekaan dari nurani diri sendiri

Kusebut Gedung Megah ini sebagai Jendela Peradaban

Di sinilah ribuan kamus dan rumus menjadi pedang terhunus
Saat teroka dan lentera disenyawakan
Di sinilah ilmu pengetahuan dan buku-buku bersekutu
Menjadi guru dalam perilaku
Di sinilah marwah dan anugerah ditulis dalam sejarah
Dan salam literasi menunaikan janji

Bangsa ini telah lama mengibarkan sangsaka dwi-warna
Dan janji kemerdekaan tak hanya menggantang asap di cakrawala

Bangsa ini akan selalu merawat kata
Menjadikan garuda sebagai lambang negara yang perkasa di dalam dada
Semua ini tercatat dengan rapi dalam lembar-lembar literasi
Menjadi prasasti dan jati diri bagi Ibu Pertiwi

Hari ini gedung megah di jalan Merdeka Selatan mengucap salam dan janji
Saat Jendela Peradaban itu dibuka
Bumi dan langit Indonesia akan bertabur cahaya

Menjadi samudera literasi tiada henti
Menjadi lautan pencerahan
Tempat para ilmuwan dan pujangga menanam pohon-pohon pengetahuan
Menajamkan pena untuk membelah tempurung kebodohan di lingkar kepala

Di puncak gedung jangkung ini
Kilau emas di atas Monas begitu lekat di bola mata
Seakan mengajarkan pada segenap bangsa
Bahwa semakin tinggi ilmu pengetahuan dan kearifan
Makin bening dan benderang sinar kemuliaan bagi manusia

Di gedung megah ini
Benih-benih kemulian ditaburkan
Pohon-pohon literasi tumbuh dan berakar peradaban
Menjadi hutan cahaya bagi masa depan

[HM. Nasruddin Anshoriy Ch]

 

(5) HURUF

Wahai huruf,
Bertahun kupelajari kau,
Kucari faedah dan artimu,
Kudekati kau saban hari,
Saban aku jaga,
Kutatap dikau dengan pengharapan,
Pengharapan yang tidak jauh
Dari hendak ingin dapat dan tahu.

Tetapi; kecewa hatiku.
Kupergunakan kamu
Menjadi senjata di alam kanan,
Agaknya belum juga berfaedah
Seperti yang kuhendakkan.
Selalu dikau kususun rapi
Di atas kertas pengharapan yang maha tinggi,

Tetapi….
Bilalah aku diliputi asap kemenyan sari,
Tak kuasa aku menyusun kamu
Hingga susunan itu dapat dirasakan pula
Oleh segenap dunia
Sebagai yang kurasa pada waktu itu.

Alangkah akan tinggi ucapan
Terimakasihku, bilalah kamu
Menjadi buku terbuka bagi manusia yang membacanya.

Kalaulah aku direndam lautan api,
Hendaklah kamu meredam pembacamu,
Bilalah aku disedu pilu,
Hendaklah kamu merana dalam hatinya.

Huruf, huruf….
Apalah nian sebab maka kamu
Belum tahu akan maksudku?

[Pramoedya Ananta Toer]

 

DOWNLOAD PILIHAN PUISI VERSI MS. WORD 

KLIK DISINI!

Share This: