Perpustakaan Unsyiah Terus Tingkatkan Kualitas SDM

images_1506638926380

Librisyiana, Darussalam- UPT. Perpustakaan Unsyiah terus berbenah, pembenahan tidak hanya dilakukan pada infrastruktur tetapi juga pada Sumber Daya Manusia (SDM) -nya. Pelatihan – pelatihan terus diikuti baik yang berskala lokal maupun nasional. Perpustakan Unsyiah menjalin kerjasama dengan beberapa mitra dalam pengembangan kualitas SDM seperti Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Lembaga Sertifikasi Pekerja Sakasakti Bogor, dan Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Budaya (PPISB) Unsyiah.

Hasil kerjasama (MoU) dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, perpustakaan Unsyiah sudah mengirimkan: 6 orang untuk pelatihan Calon Pustakawan Tingkat Ahli (CPTA), 1 orang untuk Teknisi Pengelolaan Perpustakaan, 3 orang untuk Traning Of Trainer (TOT), 3 orang untuk Manajemen Perpustakaan, 3 orang penilai jabatan fungsional pustakawan, 1 orang untuk Etika Pelayanan Perpustakaan dan 1 orang untuk program Indonesia One Search.

Perpustakaan Unsyiah juga mengirimkan staf untuk peningkatan kompetensi dan sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) berbasis SKKNI untuk instruktur/trainer yang diadakan oleh IPB dan Sakasakti Bogor. Tujuan dari pengiriman ini adalah untuk meningkatkan kualitas pengajar atau instruktur Kelas Literasi Informasi sehingga memenuhi kompetensi dan sertifikasi dari BNSP.

Tidak hanya itu, perpustakaan Unsyiah juga memanfaatkan potensi lembaga penyedia pelatihan di Unsyiah sendiri seperti Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Budaya (PPISB) Unsyiah. Perpustakaan mengirimkan 3 staf untuk pelatihan Metodology Analisis Dampak. Pelatihan ini penting karena Perpustakaan memerlukan staf yang dapat melakukan analisis secara ilmiah dampak dari berbagai program yang dilakukan selama ini. Misalnya apakah program yang sudah dilakukan selama ini berdampak pada peningkatan mutu akademik ? Tentu harus diukur secara ilmiah.

Kepala UPT.Perpustakaan Unsyiah bapak Dr. Taufiq Abdul Gani mengatakan berbagai pelatihan harus diberikan kepada staf karena bekerja di Perpustakaan yang modern memerlukan beragam skill dan kompetensi. “Dahulu memang terkesan pelayanan Perpustakaan Unsyiah hanya sebatas katalogisasi, pinjam dan kembali buku. Perkembangan selanjutnya Civitas Akademika Unsyiah menuntut pelayanan yang lebih beragam, sehingga Visi dan Misi Perpustakaan berubah, beragam pelayanan diberikan dengan kualitas yang lebih. Secara otomatis kompetensi staf pelaksananya juga harus beragam dan berkualitas tinggi. Jika tidak Civitas akan kembali meninggalkan Perpustakaan Unsyiah” demikian alasan yang diberikan oleh pak Taufiq.

Menurut Charlis Siana Rosita, pelatihan-pelatihan ini sangat berdampak positif bagi manajemen perpustakaan sekaligus peningkatan SDM yang berkerja di perpustakaan. Banyak hal yang didapatkan dari pelatihan yang sudah diterapkan di perpustakaan. Salah satunya adalah pelatihan untuk Instruktur berbasis SKKNI dengan standard an sertifikasi BNSP, diadakan oleh IPB/Sakasakti Bogor. Pelatihan ini sebagai upaya meningkatkan kualitas kelas Literasi Informasi dan semua in-housed and public training di Perpustakaan Unsyiah.

Hasil dari pelatihan diatas mendapat pujian dari ibu Cut Mutiawati, ST., MT, dosen Teknik sipil Unsyiah, yaitu dalam hal penerapan SKKNI, manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Kelas Literasi Informasi.

“Saya senang sekali dengan perpustakaan Unsyiah, makanya saya sering membawa mahasiswa setiap semester ke sana. Karena dari pegawaipun responnya sangat baik dan jika saya membawa mahasiswa saya ke sana selalu diperkenalkan jalur-jalur evakuasi apabila terjadi gempa dan hal –hal yang tidak diharapkan, sepertinya semua pegawainya tahu tentang itu (manajemen K3) jadi tidak hanya himbauan berupa poster tetapi langsung disampaikan pada pengujung yang datang”, ungkapnya kepada Librisyiana melalui telepon pada Rabu, (27/9).

Bapak Taufiq Abdul Gani menambahkan kompetensi staf terhadap SKKNI misalnya K3 merupakan hal baru bagi staf Perpustakaan. “Implementasi secara penuh SKKNI K3 ini memerlukan investasi dan pembenahan yang besar. Tahun ini kita mulai dari yang kecil dulu berupa awareness dan penyampaian informasi tidakan K3 pada saat training misalnya Kelas Literasi Informasi, demikian penjelasan beliau. [YA]

Share This:

Comments

comments

Bookmark the permalink.