Prof. Yusni Saby, Budayawan Aceh : Disharmony itu malapetaka

Harmoni kampus 6

Librisyiana, Darussalam – Jumat, (27/10) Harmoni kampus @ Lib“ (Mimbar, Analisis, Diskusi dan Persentasi Seni) dengan topik keenam yaitu “Jantung Hatiku: Unsyiah Dalam Usia ke-56, Memaknai Unsyiah Sebagai Jantong Hatee Rakyat Aceh. kembali diadakan di Libri_Cafe, gedung perpustakaan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 16.15 – 18:00 WIB  ini, menghadirkan Prof. Samsul Rizal , Rektor Universitas Syiah Kuala dan Prof. Yusni Saby, Budayawan Aceh. Selain itu, Pentas Muskal Cikalon, dari jurusan Pendidikan Seni FKIP dan Pusat Seni Unsyiah juga ikut memeriahkan acara Harmoni kampus @ Lib ini.

Prof. Yusni Saby, Budayawan Aceh mengatakan bahwa, kesenjangan itu biasanya terjadi karena tidak ada keharmonian, dari dulu kita memang bisa melihat telah ada sekatan-sekatan, seolah-olah Darussalam ini ada agama baru, tapi kemudian itu semua melebur. Hal yang perlu diingat adalah harmoni itu harus dijaga, karena sangat jelas bahwa disharmony itu malapetaka.

Rektor Unsyiah juga mengatakan bahwa di usianya yang ke-56, Unsyiah terus berusaha untuk menjadi kampus yang berkualitas. Oleh karena itu, Unsyiah harus berelevansi untuk menjadi berkualitas. Salah satu tantangan berat untuk relevansi dengan masyarakat Aceh yaitu kampus Unsyiah Gayo Lues untuk menyamakan  akses pendidikan tinggi bagi ureung Aceh.

Menjadi berkualitas juga bisa melalui mahasiswa Unsyiah, seperti pesan Rektor Unsyiah.

“Saya berharap mahasiswa dan mahasisiwi di Unsyiah ini dapat berpikir kritis, dimana dari berpikir ktitis itu akan lahir inovasi – inovasi baru yang nantinya berguna bagi kemajuan Unsyiah. Contohnya saja AC di ruangan ini. AC ini lahir dari berpikir kritis tadi. Mereka yang kritis dengan suatu keadaan dimana pada saat itu  terjadi musim panas dan bagaimana mereka menciptakan inovasi agar ruangan tersebut nyaman”, ungkap rektor Universitas Syiah Kuala diakhir kegiatan.

Kegiatan ini  berlangsung karena kerjama yang terjadi antara Pusat Kajian Pengembangan Seni (Pusat Seni) dengan Perpustakaan Syiah Kuala yang didukung oleh  Kota Tanyoe, Internasional Centre for Aceh and Indian Ocean Studies, Jurusan Pendidikan Seni FKIP dan Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala. [RSK]

Share This:

Comments

comments

Bookmark the permalink.