UPT.Perpustakaan Unsyiah Mengadakan Pendampingan Psiko-Sosial Bagi Korban Gempa

AnakKecil
Librisyiana, darussalam – Melihat pentingnya pendampingan psiko-sosial terhadap pemulihan psikis korban bencana gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, UPT.Perpustakaan Unsyiah bersama dengan psikolog memberikan pendampingan psiko-sosial. Kegiatan yang diadakan pada  Sabtu, 7 Desember 2016, bertempat di desa Grong Grong Capa, kecamatan Ulim, Kab. Pidie Jaya, diikuti oleh 150 anak-anak dan 20 ibu-ibu. Relawan yang terlibat berasal dari 10 orang Duta Baca ditambah beberapa mahasiswa Prodi Psikologi, Palang Merah Mahasiswa dan Pustakwan Unsyiah. Para relawan ini sebelumnya sudah diberikan pelatihan trauma healing.

Koordinator kegiatan ini adalah ibu Intan  Dewi  Kumala, seorang psikolog, peneliti di TDMRC  dan juga dosen di Fakultas Psikologi Unsyiah. Beliau mengatakan bahwa pendampingan psiko-sosial yang diberikannya bersama dengan pustakawan menggunakan pendekatan berbasis masyarakat. Pendekatan ini memberikan dukungan kepada kelompok ibu-ibu dan kelompok anak-anak. Dimana, sebelumnya kebanyakan support yang diberikan hanya kepada anak-anak saja, padahal bagi kelompok ibu-ibu juga harus diberikan penguatan dan pendampingan.

“Karena pendampingan psiko-sosial yang diberikan untuk kelompok ibu-ibu dan kelompok anak-anak secara bersamaan, maka kami membagi tim menjadi dua. Tim pertama yaitu saya dan beberapa pustakawan memberikan pendampingan bagi ibu-ibu, yang kedua mahasiswa relawan dari pustaka Unsyiah memberikan pendampingan bagi anak-anak”, ujarnya.

Ia melanjutkan, relawan mahasiswa memberikan pendampinngan psiko-sosial terhadap anak-anak berfokus pada kegiatan ekspansif-kreatif. Artinya, kegiatatan yang diberikan ini menghibur , tetapi juga memiliki manfaat. Dimana lagu-lagi dan permainan yang diajarkan , tidak hanya sekedar bermain melainkan memiliki arti dan tujuannya sendiri, yang paling utama yaitu untuk pemulihan kondisi psikis anak. Sedangkan kelompok ibu-ibu, ia memberikan pendampingan yang bertujuan untuk pemberdayaan. Dimana, para ibu-ibu diajarkan untuk membuat tasbih untuk berzikir. Perlu diingat bahwa, yang diberikan bukan tasbih yang sudah jadi, melainkan masih bahan mentah yang harus dirangkai lagi. Hal ini memiliki  tujuan dan makna tersendiri agar ibu-ibu tidak hanya berdiam diri duduk ditenda meratapi nasib, namun mereka bisa tersadar bahwa mereka masih bisa melakukan sesuatu yang bermakna dan produktif.

” Dari dua kegiatan yang sederhana ini, saya berharap memiliki dampak yang besar bagi para korban. Selain memberikan pendampingan psiko-sosial, kami juga memberikan psiko-edukasi. Yang mana mereka harus memahami ketika mereka merasa stress dan takut, itu merupakan suatu reaksi  normal dalam kondisi yang tidak normal, jadi mereka tidak perlu untuk minder”, ungkapnya.

Ia menambahkan, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat tidak hanya kepada para korban, tapi juga bagi kami, terutama para mahasiswa relawan. Melalui kegiatan ini mereka bisa belajar bagaimana cara berinteraksi yang baik dengan masyarakat, dan bisa memaknai arti peduli terhadap sesama.[Moli]

 

Share This:

Comments

comments

Bookmark the permalink.