Ruang Baca Dipisah. Apa Tanggapan Mahasiswa?

PicsArt_05-01-09.23.28

Librisyana, Darussalam-Dalam rangka menjalankan syariat Islam di Aceh, UPT.Perpustakaan Unsyiah memberlakukan sebuah peraturan baru, yaitu memisahkan penggunaan ruang baca antara wanita dan pria. Ruang baca pria berada di Ruang Baca 1 sedangkan wanita berada di sebelahnya, yaitu Ruang Baca 2. Peraturan ini mulai dijalankan pada tanggal 26 April 2016 lalu dan para mahasiswa yang berkunjung ke pustaka juga sudah menjalankan peraturan ini.

Namun ada yang ada hal unik yang terjadi saat kita melihat kondisi ruang baca saat ini. Dapat dilihat dari photo di bawah, Ruang Baca 1 (atas) yang sekarang dikhususkan untuk digunakan oleh pria terlihat kosong dan relatif sepi. Malahan pada photo yang kami ambil pada Sabtu (30/4/2016) pukul 11.48 wib ini , ruang baca 1 tersebut sedang digunakan oleh seorang wanita. Sedangkan Ruang Baca 2 (bawah) yang penggunaannya dikhususkan untuk wanita sangat penuh dan ramai pengunjung.

20160430_121110

20160430_121229

Lantas apakah yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Saat ditanya pendapatnya mengenai peraturan ini, beberapa pendapat dilontarkan oleh mahasiswa dan mahasiswi yang berkunjung ke UPT Perpustakaan Unyiah. Ada yang berpendapat hal ini merupakan peraturan yang positif dan ada juga yang berpendapat negatif

Pendapat-pendapat positif antara lain, terwujudnya perpustakaan yang berbasis syariat islam dan terhindar dari dugaan-dugaan negatif. Pedapat positif ini dilontarkan oleh seorang yang sudah sangat sering berkujung ke Perpustakaan, Juli Ismulia, mahasiswi Teknik Pertanian. Juli berpendapat, pemisahan ruang baca ini akan membuat pengunjung terhindar dari pemikiran yang tidak-tidak, dan Juli juga merasa senang karena saat ini ruang baca juga difasilitasi sebuah sofa yang memberikan kenyamanan lebih saat kerja kelompok di ruang tersebut.

Pendapat positif juga dilontarkan zuhrina, dari Mahasiswi Arsitektur, baginya peraturan ini sangat baik dalam mengajarkan orang-orang untuk dalam kondisi apapun agar tetap menjalankan syariat Islam.

“Positifnya dari peraturan ini, jadinya di ruang baca itu ada batasan antara cewek dan cowok, ngak bercampur-campur , kan tempatnya lesehan, kalau dicampur ya ngak enak di lihat,” sahutnya.

Sedangkan pendapat-pendapat negatif yang dilontarkan antara lain, sulitnya melakukan kerja kelompok, diskusi, rapat dan aktivitas-aktivitas antara pria dan wanita, khususnya bagi para mahasiswa dan mahasiswi yang telah sering menggunakan ruang tersebut dan sudah merasa nyaman. Meskipun pihak perpustakaan telah menyediakan tempat-tempat diskusi lainnya untuk digunakan, beberapa mahasiswa lebih merasa nyaman berdiskusi diruang baca. Pendapat ini dilontarkan olehDiki Putra Rizky dari Fakultas Teknik.

“Memang sih, perpus menyediakan ruang lain untuk diskusi, tapi untuk rapat-rapat dan sebagainya enakan di ruang baca, udah nyaman disitu. Kadang-kadang merasa susah juga cari tempat diskusi lain, penuh selalu, kalau ruang baca bisa bagi-bagi tempat meski ngak saling kenal. Jadinya udah jarang ke ruang baca untuk kerja kelompok, ruang baca cowok sering kosong dan sepi. Kami kan cowok susah kalo kerja kelompok, harus ada bantuan kawan cewek untuk bantu ngerjain tugas kuliah juga”Ungkapnya

Meski terdapat berbagai argumen tentang peraturan baru ini, para pengunjung harus tetap mengikuti aturan-aturan yang ada, untuk terciptanya fasilitas Perpustakaan yang berbasis Syariat Islam. Semoga peraturan ini kedepannya memberi dampak yang positif dan bisa dirasakan oleh setiap kalangan yang mengunjungi perpustakaan. [KB]

 

Share This:

Comments

comments

Bookmark the permalink.